Orangtua Siswa Merasa Ditipu

Posted: March 18, 2011 in Uncategorized

Tribun Jambi – Jumat, 18 Maret 2011 08:14 WIB
Share |
rsbi.jpg
Surya Daily
Ilustrasi: Janji RSBI/SBI sebagai sekolah berkelas dunia, dengan segala sistem manajemen, mutu guru, sarana, infrastrukturnya, dan kriterianya tidak akan bisa dipenuhi.
MUARO JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM – Ketidakjelasan status Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional (SMA BI) Pondok Meja membuat para guru dan siswa resah.
Para orang tua siswa SMA BI Pondok Meja melalui komite sekolah mengaku merasa ditipu oleh pemerintah perihal status sekolah anak-anak mereka.
Wakil Ketua Komite SMA BI Pondok Meja A Gunawan menjelaskan bahwa status sekolah sudah sangat jelas, karena menurutnya sudah melalui kajian-kajian yang mendalam serta ada SK dari Kementerian Pendidikan Nasional, dan Peraturan Gubernur, tetapi sekarang tiba-tiba mau ditutup.
“Terus terang kami para orang tua merasa dibohongi, karena awal mula kami masuk ke sana kami itu diundang oleh pemda dengan undangan yang jelas, ditandatangani oleh Sekda Provinsi Jambi Bapak Firdaus,” katanya kepada Tribun Kamis (17/3).
Gunawan menambahkan para siswa yang masuk ke sana adalah anak-anak yang berprestasi dengan minimal nilai 7,5 mulai dari kelas 1 sampai kelas 3.
“Eh tahu-tahu sekarang oleh pemerintah mau ditutup, apa ini kami tidak dibohongi,” tegas Gunawan.
Gunawan menceritakan meskipun pada awalnya para orang tua kurang yakin dengan sekolah tersebut, tetapi diberi penjelasan mengenai sekolah tersebut. “Sekolah seperti ini, fasilitasnya seperti ini, gedungnya seperti ini, sekarang dengan serta merta mau ditutup tanpa kami diajak duduk bersama,” jelasnya.
Menurutnya komite juga sudah melayangkan surat ke dinas pendidikan, tetapi juga tidak pernah ditanggapi. “Bahkan kami mau bertemu dengan kepala dinas pendidikan saja dipersulit,” katanya.
Menurut Gunawan yang paling memprihatinkan adalah siswa akan di pindah ke SMA Titian Teras. “Dia (pembuat kebijakan) berarti sudah melanggar HAM,” ujarnya.
Gunawan berharap pemerintah memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menentukan sekolah mana yang akan dituju, karena sebelum diterima di Pondok Meja, mereka sudah diterima di sekolah-sekolah favorit di Provinsi Jambi,” katanya.
Gunawan menegaskan, atas nama semua wali murid melalui komite sekolah akan melakukan upaya hukum, karena upaya-upaya yang telah mereka tempuh selama ini tidak pernah ada kejelasan.
“Kita saat ini telah menunjuk 12 pengacara untuk mengajukan gugatan secara perdata atau pun kalau ada secara pidana baik ke gubernur dan diknas,” katanya.
Kepala SMA BI Pondok Meja Hariyanto Miftha mengatakan, kondisi guru dan siswanya dalam keadaan kurang semangat.
Menurut Hariyanto siapapun orangnya jika dalam kondisi seperti itu, tidak bisa berbuat optimal. “Guru juga seperti itu, karena mereka merasa masa depannya tidak jelas, maka mereka menjadi tidak mempunyai motivasi kerja,” katanya, kepada Tribun Kamis (17/3) sore.
Begitu pula dengan siswa, menurutnya para siswa sekarang juga menjadi resah, semangat mereka turun. “Saya merasakan keresahan mereka,” ujarnya.
Saat disinggung mengenai penggabungan sekolahnya dengan SMA Titian Teras, Hariyanto mengaku pasrah. “Itu kewenangan gubernur, kewenangan pemerintah,” katanya.
Kalaupun nantinya harus digabung, menurutnya harus ada dasar hukum yang jelas, karena menurut Hariyanto dua sekolah tersebut memiliki kultur sendiri-sendiri.
“Ini bukan permasalahan memindahkan satu anak saja, tetapi memindahkan satu sekolah, jadi ini bukan perkara yang gampang, tidak segampang memindahkan barang,” katanya.
Sementara itu, tidak ada rencana kunjungan ke sekolah yang pembangunannya menelan dana Rp 67 miliar ini saat Menteri Pendidikan Nasional M Nuh melakukan lawatan ke Provinsi Jambi, Sabtu (19/3).
Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menyebutkan dalam protokoler tidak tercantum agenda kunjungan atau pembahasan perihal sekolah tersebut.
“Kebetulan tidak ada agenda menteri ke sekolah Pondok Meja, juga pembahasan sekolah,” ujar Badmiril Amri MPd Kepala Bidang Pendidikan Menengah Tinggi Dinas Pendidikan Provinsi Jambi di kantornya, Kamis (17/3).
Lawatan yang dilakukan Mendiknas, dikatakan Badmiril tujuan utamanya peletakan batu pertama Perguruan Tinggi Al Azhar, kunjungan ke SMPN 7, pertemuan dengan guru-guru serta kepala sekolah. Selain itu pejabat pusat ini akan melakukan kunjungan juga ke beberapa kabupaten, yaitu Merangin, Tebo, Bungo.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah Pondok Meja, dikatakan Badmiril masih berjalan seperti biasa. Tidak ada hambatan KBM walaupun bangunan yang ada masih separuh jadi.
Disdik provinsi pun telah membuat langkah evaluasi, sebuah tim diturunkan untuk mengevaluasi eksistensi sekolah tersebut. “Tim masih bekerja, sejauh ini belum ada finalisasi laporan ke dinas,” ujarnya.
Batas waktu tim evaluasi ini bekerja sampai Maret 2011. Di awal bulan berikutnya hasil penilaian tim tersebut akan dibahas di tingkatan dinas sebelum akhirnya dibuat sebuah rekomendasi ke Gubernur Jambi Hasan Basri Agus. (wjk/sud)

Penulis : wahyu
Editor : deddy

Advertisements
Comments
  1. nady01 says:

    wewww..
    ayo dukung sbi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s