Kondisi siswa SBI Jambi

Posted: March 12, 2011 in Uncategorized

Mandi Harus Antre, Jarang Nonton TV

Telah empat bulan lamanya, 90 siswa SMAN-BI (Bertaraf (Internasional) mengikuti kegiatan belajar dan menempati asrama sekolah. Di sana, mereka harus belajar mandiri dan jauh dari keramaian. Berbagai suka dan duka mereka alami. Bagaimanakah kisahnya?
Deru kendaraan alat berat dan tukang yang sedang bekerja membangun gedung SMAN-BI, terdengar saling bersahut ketika kemarin (26/10), JambiIndependent berkunjung ke SMAN-BI Pondok Meja, sekitar pukul 13.45. Waktu itu, bel tanda pulang sudah berbunyi.

Tak seperti siswa di sekolah reguler, siswa di SMAN-BI tidak pulang menuju rumah, mereka pulang ke kamar masing-masing di asrama. Dalam satu kamar, asrama yang masih berada dalam satu komplek sekolah itu, diisi oleh tiga sampai empat orang. Siswa tidur dengan menggunakan ranjang tingkat.

Untuk kamar tidur siswi, dibuat terpisah dengan siswa. Untuk asrama siswi berada di lantai II, sedangkan siswanya di lantai I. Tetapi, kamar mandi siswa dibuat sama antara kamar mandi siswa putra dan putri, hanya berbeda ruang saja.

Bau tak sedap langsung menyeruak ketika memasuki asrama siswa laki-laki. Tidak tahu dari mana datangnya bau tersebut, bisa dari sepatu-sepatu siswa ataupun berasal dari kamar mandi yang tidak airnya. Yang jelas, bau tersebut memancing datangnya lalat untuk masuk ke gedung mewah sekolah tersebut, yang konon pembangunannya telah menghabiskan dana miliaran rupiah.

Bukan hanya di kamar mandi asrama saja, fasilitas air tidak tampak di seluruh kamar mandi dan WC yang ada di sekolah tersebut. “Air di sini datangnya hanya sekali sehari, dibawa pake mobil tanki air setiap sore,” ujar Andi, seorang siswa SMAN-BI.

Jadi, jika ingin mandi, siswa terpaksa harus antre. Termasuk ketika ingin mencuci pakaian. Jadilah bagi siswa yang telah mencuci pakaian harus mencuci pada keesokan harinya. Termasuk mandi, air yang ada harus benar-benar dihemat jika ingin mandi dua kali sehari.

Menurut kepala sekolah SMAN-BI Haryanto kepada beberapa anggota komisi IV beberapa waktu lalu, ketiadaan air di sekolah tersebut karena belum masuknya air PDAM ke sekolah tersebut. Sedangkan air dari sumur bor sudah diupayakan, tapi kualitas airnya tidak bagus.

Selain minimnya air di sekolah, siswa ternyata jarang menonton televisi. Karenanya mereka tidak bisa mengetahui keadaan di luar selain dari internet. “TV adanya hanya di tempat Satpam, jadi kalo mau nonton, ya harus ke sana. Tapi karena ndak enak tiap saat, jadi jarang-jarang nontonnya,” ujar Anisa, siswa SMAN BI yang berasal dari Kota Jambi.

Kehidupan mandiri yang diterapkan di sana ternyata membawa kesedihan bagi siswa-siswa. Wajar saja, karena rata-rata mereka mengaku tidak biasa mengerjakan hal-hal seperti yang mereka kerjakan di asrama. Seperti mencuci pakaian sendiri, makan mengikuti jadwal dan hanya bisa bermain di lingkungan sekolah yang belum jadi seluruhnya saja.

Interaksi dengan kehidupan di luar juga jarang mereka lakukan. Karena letak sekolah yang berada di kawasan sekolah polisi negara (SPN), dimana lokasinya cukup terpencil. Jauh dari perumahan penduduk, dan harus menempuh sekitar 2 kilometer untuk sampai ke jalan raya.

Sehingga, menurut Anisa, jika ingin jajan atau makan cemilan, mereka harus menghubungi orang tua mereka untuk mengantarkan makanan. “Karena jarang bisanya ke sini, jadi sekali bawa (makanan, red) harus banyak,” ujarnya sembari tersenyum. Sedangkan siswa yang berasal dari kabupaten terpaksa hanya sebulan sekali bisa menemukan makanan dari orang tua.

Untuk bermain keluar dari lingkungan sekolah, selain dilarang oleh pihak sekolah, juga tidak berani dilakukan oleh siswa. Karena lingkungan sekolah masih dikelilingi oleh perkebunan karet yang rimbun dan dipenuhi semak belukar. Sehingga, binatang liar seperti babi dan monyet masih sering menemani siswa-siswi cerdas itu.

Kondisi ini, sebenarnya sempat menjadi sorotan tajam anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jambi. Bahkan, Henri Mashyur, anggota Komisi IV dari Fraksi Gerakan Keadilan menilai, sebenarnya siswa belum layak tinggal di SMAN-BI. Alasannya, bangunan belum siap pakai. Fasilitas tidak lengkap. Malah, perkembangan jiwa siswa bisa terganggu akibat kurang lengkapnya fasilitas di sekolah itu.

Syahbandar, anggota Fraksi Gerakan Keadilan yang lain menilai, bangunan SMAN-BI itu patut dipertanyakan. Apalagi anggaran yang sudah digelontorkan bagi sekolah itu cukup besar. “Nanti kita bicarakan lagi di fraksi. Ini pembangunannya tidak benar. Kalau perlu, kita usulkan bentuk pansus (panitia khusus, red) SMAN-BI,” tandas Syahbandar, kemarin.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s